Monday, August 26, 2013

Benarkah Ingus Berbau Tanda Infeksi Sinusitis


Dalam satu konsultasi, seorang ibu rumahtangga mengeluhkan pilek yang dialaminya. Lendir atau ingus yang keluar dari hidungnya berwarna hijau dan bau. Gejala penyakit apakah ini?

Dr. Yoshika Kurniasari, Dokter Umum dan Jamsostek Klinik Keluarga Antasari Bandar Lampung menjelaskan, pilek termasuk gejala penyakit yang umum diderita di masa pancaroba seperti sekarang. Namun, jika hidung Anda menghasilkan banyak lendir dan gejalanya tidak hilang dalam seminggu, besar kemungkinannya itu infeksi sinus.

Menurutnya, sinusitis terjadi jika salah satu atau beberapa lapisan sinus terinfeksi. Infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, maupun jamur.

Tanda-tanda keluarnya lendir dari hidung bukan sekadar pilek, seperti Rasa nyeri dan tertekan di wajah, Keluar ingus kental, Hidung bengkak, Bau mulut, Batuk berdahak, Demam, Indera penciuman tak bekerja, dan Mata berair.

Cara pencegahannya dengan menjaga kekebalan tubuh dan membiasakan hidup bersih. Sering-sering mencuci tangan dengan sabun juga dianjurkan.

Disarankan juga untuk beristirahat di rumah sampai penyakitnya sembuh, selain mempercepat penyembuhan, istirahat di rumah juga agar tidak menularkan penyakitnya pada orang lain.

Sunday, August 25, 2013

BOTOX DAN MITOSNYA

BOTOX DAN MITOSNYA
Apa itu Botox?

Botox merupakan protein murni yang berasal dari bakteri Clostridium botulinium. Proses botox bukanlah proses surgical melainkan non-surgical –tidak melalui pembedahan. Botox merupakan bentuk perawatan yang secara temporal mengurangi kerutan baik yang ringan hingga berat, khususnya bagi mereka yang berusia 18 hingga 65 tahun. Injeksi botox dalam jumlah sedikit ke otot, akan memblokir sel saraf yang menginstruksikan otot untuk berkontraksi. Dengan intrusksi tersebut, secara temporal akan melemahkan otot wajah, menghapus garis-garis wajah yang tidak dikehendaki dan menghaluskan serta mengeliminasi kerutan dari wajah selama beberapa bulan.

Banyak orang masih awam tentang botox, dan berpersepsi buruk pada orang-orang yang melakukan suntik botox. Berikut ini bahasan mengenai mitos botox dan fakta sebenarnya.

Mitos 1 : Botox = Sakit

Banyak orang beranggapan bahwa melakukan suntik botox itu sakit dan menyiksa. Yang perlu Anda ketahui, proses botox meliputi penginjeksian atau penyuntikan pada beberapa area wajah. Dan tidak memerlukan obat bius. Botox dilakukan oleh tenaga profesional, seorang dokter yang menangani proses ini biasanya menggunakan cream atau ice pack agar pasiennya merasa nyaman. Sebelum Anda melakukan botox, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu, tentang ketakutan Anda pada jarum misalnya, karena mereka (red:dokter) akan memberikan penjelasan yang lebih mendalam untuk meredakan ketakutan Anda.

Mitos 2: Botox membuat wajah kaku tanpa ekspresi

Otot wajah memiliki keseimbangan satu sama lain. Apabila botox diinjeksikan dalam jumlah yang berlebihan, maka akan menyebabkan otot wajah untuk berekspresi menjadi inaktif –yang berarti mitos benar. Namun, apabila keseimbangan otot-otot yang mengatur ekspresi wajah masih terjaga keseimbangannya –dengan injeksi botox dosis ringan pada otot tertentu, Anda akan memperoleh kulit wajah yang halus dan bebas keripun tanpa harus takut wajah menjadi kaku tanpa ekspresi.

Mitos 3 : Siapapun dapat menangani proses botox

Botox tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, kecuali tenaga yang benar-benar ahli dan berpengalaman, termasuk ahli bedah dan dermatologist atau ahli kulit dengan latar belakang pendidikan yang sudah teruji serta memiliki perlengkapan medis untuk proses botox yang layak.

Mitos 4 : Berhenti melakukan botox akan membuat Anda berbeda dari sebelumnya

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, botox memiliki efek temporal bukan permanen. Efek dari botox hanya akan bertahan selama kurang lebih 4 bulan. Saat Anda tidak melakukan botox lebih dari 4 bulan, maka kondisi wajah akan kembali seperti semula –saat sebelum melakukan perawatan botox.

Mitos 5 : Botox tidak ditujukan untuk pria

Tidak ada aturan yang melarang seorang pria untuk melakukan botox. Menjaga keremajaan kulit bukan hanya kebutuhan wanita, pria pun penting untuk melakukannya, terutama mereka yang bekerja di lingkungan profesional. Untuk saat ini, pria berkontribusi 10% dari total kesuluruhan perawatan botox, dan jumlah tersebut terus meningkat.


Mitos 6 : Keracunan Akibat Botox


Untuk kepentingan kosmetik, dalam sekali perawatan seorang pasien normalnya menerima dosis 20-70 unit botox. Dalam jangka waktu panjang, tubuh akan secara alami kebal terhadap botox. Inilah kenapa botox memiliki efek sementara atau temporal. Penggunaan botox dengan dosis tinggi akan sangat membahayakan. Dosis penggunaan botox yang dapat mematikan yakni 2800 unit. Untuk masalah keriput dan garis wajah dosis botox yang digunakan adalah 100 unit.

Mitos 7 : Botox adalah racun dan berbahaya penggunaannya dalam kosmetik

Pernyataan tentang mitos diatas adalah tidak benar. Faktanya, botox termasuk resep medis. Botox juga merupakan obat yang paling banyak diteliti di dunia dan jutaan orang telah menggunakannya. Namun, penggunaan botox harus dikontrol oleh spesialis. Dalam jumlah micro, racun botulinum tipe A akan memberikan dampak yang baik khususnya bagi wajah, masseter hypertrophy, hyperhidrosis, dan lain lain. Dalam satu botol botox telah dibersihkan dari racun, sehingga tidak berbahaya.

Mitos 8 : Botox memiliki efek samping yang serius

Dari sekian banyak penelitian yang telah dilakukan tentang botok, botox telah terbukti aman dan diterima untuk pengobatan medis dan penggunaan dalam kosmetik. Khususnya untuk perawatan wajah, efek samping dari botok bisa dibilang sangat minimal –disamping bekas suntikan. Bekas suntikan biasanya akan menimbulkan bekas, pada area yang diinjeksi, namun akan segera kembali seperti semula. Apabila Anda ingin menggunakan botox untuk pengobatan, konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu, tentang manfaat dan resikonya, sehingga Anda tidak menerima informasi yang salah.

Note : Bagi Anda yang sedang hamil atau menyusui sebaiknya tidak menggunakan botox.

Mitos 9: Botox dapat menyebabkan botulism (keracunan makanan)

Botox terbuat dari protein yang dimurnikan. Bagian yang berbahaya telah dihilangkan dalam proses pemurnian, dan yang tersisa adalah kandungan proteinnya. Dan juga, botox tidak akan menyebabkan keracunan atau botulism apabila digunakan sesuai dosis yang direkomendasikan.

Mitos 10: Perawatan botox hanya dapat dilakukan satu kali

Perawatan botox dapt dilakukan selama tubuh Anda masih memberikan respon. Pada kebanyakan kasus, setiap treatment atau perawatan botox dapat bertahan hingga 3-4 bulan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, dalam jangka panjang tubuh akan kebal, dan respon terhadap akan berkurang, sehingga manfaatnya akan berkerja tidak efektif. Namun, dokter akan melakukan 3 hal untuk menjaga respon tubuh Anda terhadap botox, yakni :
  • Memberikan dosis paling rendah misal dosis normal botox berkisar antara 20-70, untuk menjaga respon jangka panjang bagi tubuh Anda, maka Anda diberi dosis 20 unit.
  • Menentukan waktu yang tepat sebelum melakukan injeksi kembali.
  • Dokter akan menyarankan Anda untuk berhenti melakukan botox apabila terjasi alergi serius atau efek samping serius lainnya.

Mitos 11 : Botox hanya digunakan untuk kepentingan kosmetik.

Disamping untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan kerutan, botox memiliki fungsi lain khususnya medis. The Food and Drud Administration [FDA], USA telah menyetujui penggunaan botox untuk :
  • Cervical dystonia [CD]— sakit leher dan kejang
  • Blepharospasm, atau eyelid spasms
  • Strabismus
  • Keringat berlebihan

Mitos 12: Banyak krim yang bekerjaa lebih baik daripada botox

Krim yang beredar dipasaran dengan embel-embel untuk menghaluskan kerutan dan garis pada wajah, hanya bekerja di luar. Lain dengan botox, botox menyerap ke dalam kulit dan bekerja hingga ke otot wajah yang notabene menyebabkan terbentukan garis wajah. Botox mencegah kontraksi pada otot, sehingga menyebabkan otot dalam kondisi relax atau relaksasi yang menyebabkan kulit tampak halus dan menghilangkan garis wajah.
sumber mitos

BAHAYA NGEMIL KERIPIK BAGI IBU HAMIL

BAHAYA NGEMIL KERIPIK BAGI IBU HAMIL

Banyak sekali pantangan saat sedang hamil. Bahkan soal makanan pun harus pintar memilihnya karena akan berdampak pada sang janin.


Keripik dan biskuit menjadi beberapa makanan yang sebaiknya dihindari selama masa kehamilan. Kok gitu?

Peneliti mengungkapkan ngemil keripik dan biskuit malah meningkatkan risiko bayi terlahir dengan bobot rendah.


Bahan kimia akrilamida dalam cemilan yang digoreng menjadi penyebabnya. Semakin tinggi tingkat akrilamida selama hamil, maka para ibu harus siap melihat buah hati terlahir underweight dan lingkar kepala kecil.


Jangan anggap sepele. Bayi yang lahir dengan berat badan dibawah normal berisiko memiliki masalah kesehatan lebih dini di kemudian hari, seperti tertundanya perkembangan otak dan sistem saraf hingga penyakit mematikan seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.


"Kami menyarankan para ibu hamil untuk mengganti keripik dan biskuit dengan sayur dan buah. Industri makanan juga perlu mencari cara efektif untuk mengurangi tingkat akrilamida dalam produk-produknya," jelas Profesor John Wright, dilansir melalui Dailymail

Thursday, August 15, 2013

Mariyuana Bisa Jadi Obat Diabetes?

Para ilmuwan terus mengeksplorasi kemampuan tanaman mariyuana alias ganja dalam pengobatan. Studi teranyar menyebutkan, ganja mengandung komponen yang bisa membantu mengontrol gula darah.

Daun ganja juga memiliki kaitan yang kuat dengan berat badan. Selain meningkatkan nafsu makan, daun ganja ternyata bisa membantu seseorang untuk tetap langsing.


Tiga studi terakhir menunjukkan, para pengguna mariyuana mempunyai risiko lebih kecil mengalami kegemukan. Selain itu, mereka juga memiliki risiko diabetes lebih rendah dan nilai indeks massa tubuhnya lebih kecil. Ketiga manfaat tersebut didapatkan meski para pengguna ganja mengasup lebih banyak kalori.

Bagaimana hal tersebut terjadi? Salah satu alasannya adalah karena pengguna mariyuana memiliki metabolisme karbohidrat lebih baik. 

"Level insulin puasa mereka juga lebih rendah dan mereka juga memiliki risiko lebih rendah mengalami resistensi insulin (kondisi yang memicu diabetes) akibat kemampuan tubuh mereka dalam menjaga kadar gula darah normal," kata Murray Mittleman, peneliti dari Harvard Medical School.

Penelitian yang dilakukan Mittleman itu meliputi 4.600 pria dan wanita yang berpartisipasi dalam National Health and Nutrition Examination Survey antara tahun 2005-2010. 

Dari para responden tersebut, 48 persen pernah mengisap mariyuana paling tidak sekali dalam hidup mereka dan 12 persen masih mengisap sampai sekarang. 

Para peneliti mengontrol faktor risiko lain yang berpengaruh pada risiko diabetes, seperti usia, jenis kelamin, penggunaan akohol, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik.

Kendati faktor-faktor risiko itu diperhitungkan, para pengguna mariyuana sampai sekarang memiliki level insulin puasa 16 persen lebih rendah dibanding orang yang tidak pernah mengisap atau sudah tidak mengisap lagi. Para pengisap ganja itu juga mendapatkan penurunan kadar resistensi insulin sekitar 17 persen.

Level insulin puasa dan juga kadar resistensi insulin terkait erat dengan terjadinya diabetes tipe dua serta obesitas.


Para pengguna mariyuana ternyata juga memiliki kadar kolesterol baik lebih tinggi, yang bisa melindungi tubuh dari penyakit jantung. Secara umum, mereka juga memiliki lingkar pinggang lebih kecil.

Para peneliti belum memahami dengan jelas kaitan tersebut karena penelitian ini bukanlah studi kontrol. Belum diketahui pula apakah mariyuana atau faktor gaya hidup lain yang dimiliki para responden yang menyebabkan mereka mendapat sejumlah keuntungan kesehatan tersebut. 

Salah satu dugaan adalah pengaruh mariyuana pada reseptor tertentu di otak yang berkaitan dengan nafsu makan dan metabolisme.
Sumber : health.kompas