Wednesday, March 30, 2011

Pil Antiradiasi Laku Keras di AS

Pil Antiradiasi Laku Keras di AS
KEKHAWATIRAN atas bahaya radiasi menyeruak ke seluruh dunia pascaledakan reaktor nuklir di Jepang. Di Amerika Serikat, hal itu malah membuat warganya merasa takut hingga penjualan pil antiradiasi meningkat tajam. 

Kalium iodida (KI) membanjiri kelenjar tiroid dengan yodium nonradioaktif sehingga mengurangi jumlah radiasi yang dapat diserap kelenjar. Tidak semua apotek menyediakan KL. Beberapa perusahaan farmasi Amerika melaporkan bahwa mereka telah kehabisan suplai KI. 

Seperti dilaporkan oleh BBC News, peritel daring Nukepills.com via akun Twitter mengatakan pihaknya juga telah kehabisan stok KI, Selasa (22/3). Farmasi daring itu menyebutkan telah 3 menerima 3.800 pesanan dalam 18 jam, Minggu (20/3) dan telah mengirimkan 50.000 pil ke Tokyo dengan bantuan Harvard Medical School. 

Debby Fleming Wurdack, salah seorang pemilik Fleming Pharmaceuticals, yang menyediakan KI sesuai dengan permintaan menyatakan pihaknya juga sudah muali kehabisan stok. "Ini cukup gila, " kata Fleming Wurdack. 

Perusahaan itu menerima lebih dari 350 pesanan dari berbagai klien mulai dari ibu rumah tangga hingga pemerintah negara bagian. Felming bahkan juga menerima pesanan dari perusahaan yang bermaksud untuk mengirimkan KI kepada karyawan mereka di Jepang. 

Bahan baku 
Kepada BBC, Wurdack Fleming berujar bahwa perusahaannya telah meminta tambahan bahan baku untuk memproduksi tambahan KI. 

Untuk efektivitas maksimal, KI yang komposisinya mirip dengan garam harus diasup sebelum terpapar radiasi. Obat ini mempu melindungi selama sekitar 24 jam. 

Tablet KI dapat mencegah tubuh menyerap yodium radioaktif sehingga mengurangi risiko mengalami kanker tiroid

Anak-anak dan perempuan hamil serta menyusui adalah diprioritaskan menerima KI karena mereka lebih rentan terhadap keracunan radiasi. Pemerintah Jepang mengatakan mereka telah mendistribusikan 230.000 unit KI ke pusat-pusat evakuasi yang dekat dengan fasilitas nuklir.

Obat Arthritis bantu Pasien Kanker Kulit

Obat Arthritis bantu Pasien Kanker Kulit
LEFLUNOMIDE, obat yang biasa digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis ternyata juga mampu menghambat pertumbuhan melanoma ganas. Melanoma adalah kanker dari sel-sel pigmen di kulit kita. Ini merupakan bentuk paling agresif dari kanker kulit. 

Jika terdeteksi semenjak awal, bisa dilakukan operasi untuk menghilangkan tumor, tetapi peluang untuk bertahan hidup bagi pasien yang tumornya sudah menyebar sangatlah rendah. 

Dr Grant, ilmuwan UEA Wheeler, dan Dr Matt Tomlinson melakukan analisis terhadap ribuan senyawa guna mencari yang paling berpengaruh pada perkembangan sel-sel pigmen. 

Mereka pun mengidentifikasi sejumlah senyawa yang memengaruhi perkembangan sel pigmen. Bersama dengan rumah sakit anak di Boston, mereka pun menemukan bahwa leflunomide secara signifikan membatasi pertumbuhan tumor pada tikus. 

Ketika leflunomide dikombinasikan dengan PLX4720, terapi melanoma terbaru yang menjanjikan dan tengah diuji klinis, efeknya bahkan lebih kuat, hampir memblokir keseluruhan pertumbuhan tumor. 

Tahap selanjutnya adalah uji klinis dalam penggunaan leflunomide untuk melawan melanoma. Karena leflunomide sudah berlisensi untuk mengobati arthritis, proses ini diperkirakan lebih cepat daripada biasanya sehingga pengobatan baru untuk melanoma diharapkan dapat tersedia dalam waktu sekitar lima tahun. 

"Ini adalah penemuan menarik dengan menggunakan obat yang telah ada khususnya untuk melanoma," kata Dr Grant Wheeler, dari UEA School of Biological Sciences. 

"Kematian akibat kanker kulit melanoma semakin meningkat maka diperlukan pengobatan lebih efektif. Kami optimistis penelitian ini akan mengarah pada metode baru untuk tumor melanoma yang dikombinasikan bersama terapi lain dan mempu menghentikan kemajuan penyakit ini," katanya. Penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal Nature edisi 24 Maret.

Ternyata 50 Persen Resep Obat Diberikan Dokter Yang Tidak Rasional

img
Pemberian resep obat dari dokter harusnya bermanfaat, aman, risikonya sedikit dan disesuaikan dengan keuangan pasien. Tapi diketahui 50 persen obat yang diberikan dokter baik di rumah sakit maupun puskesmas tidak sesuai atau irasional.

Obat merupakan salah satu kebutuhan esensial manusia terutama jika sedang sakit. Namun masyarakat sebaiknya waspada jika obat yang diresepkan tidak sesuai atau tidak rasional.

"Sekitar 50 persen resep yang diberikan tidak sesuai, hal ini membuat biaya terbuang karena obat yang diberikan tidak efektif," ujar Prof Iwan Dwiprahasto, guru besar Farmakologi UGM dalam acara Workshop Jurnalis Kesehatan di Gedung FISIP UI, Depok, sabtu (26/3/2011).

Prof Iwan menuturkan terkadang dokter memberikan resep obat yang banyak, karena tiap gejala yang timbul diberi obat misalnya gejala yang timbul batuk, pilek, sakit kepala maka diberikan satu obat untuk masing-masing gejala tersebut.

"Tujuan dari peresepan harusnya bermanfaat, aman, terjangkau, risikonya sedikit atau minimal, mengurangi pengeluaran dan juga disesuaikan dengan keuangan pasien atau keluarganya," ujar Prof Iwan dari Bagian Farmakologi dam Terapi/Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit FK-UGM/RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Prof Irwan menjelaskan dalam memberikan resep sebaiknya tepat diagnosis, tepat indikasi, tepat jenis dosis, tepat cara penggunaan dan lamanya pengobatan, tepat informasi serta tepat dengan kondisi pasien.

Salah satu pemberian resep yang tidak irasional adalah memberikan antibiotik untuk penyakit yang tidak sesuai. Dr Sharad Adhikary selaku perwakilan WHO di Indonesia menyatakan tahun 2005 ditemukan bahwa 50 persen resep di Puskesmas dan rumah sakit di Indonesia mengandung antibiotik.

Sedangkan survei nasional tahun 2009 menemukan bahwa antibiotik yang diresepkan ini untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus seperti diare akut dan selesma (flu), sebenarnya yang tidak membutuhkan antibiotik untuk pengobatannya.

Penggunaan obat yang tidak rasional atau berlebihan ini tentunya meningkatkan biaya layanan kesehatan. Selain itu terkadang pasien tidak diberikan pilihan obat yang akan dikonsumsinya, sehingga ia hanya bisa menerima resep obat apapun yang diberikannya. Misalnya pada beberapa kasus kadang ditemukan lebih dari satu antibiotik dalam resep obat.

"Peresepan obat yang irasional termasuk dalam pemberian indikasi yang tidak jelas, meresepkan obat yang terlalu banyak serta tulisan resep yang kadang bisa disalahartikan," ujar Prof Iwan.

Prof Iwan menuturkan karena itu diperlukan upaya untuk melindungi masyarakat dari risiko penggunaan obat yang keliru, seperti melakukan seleksi obat, memberikan obat generik serta melihat bentuk obat mana yang dibutuhkan oleh pasien.

10 Negara dengan Manusia Paling Gemuk Terbanyak di Dunia


Kegemukan tidak hanya menjadi masalah di negara maju, bahkan di negara paling miskin sekalipun banyak yang mengalaminya. Banyak faktor yang mempengaruhinya, mulai dari kurang olah raga hingga diet yang tidak sehat


Badan kesehatan dunia WHO menetapkan, seseorang bisa dikatakan mengalamioverweight atau kegemukan jika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari atau sama dengan 25 kg/m2. Jika IMT sudah melebihi 30 kg/m2, maka bisa dikategorikan obesitas.

Saat ini WHO mencatat, 1 dari 3 orang di seluruh dunia memiliki masalah kegemukan sedangkan 1 dari 10 orang mengalami obesitas.

Jika tidak ada upaya untuk memperbaiki gaya hidup dan pola makan, diperkirakan jumlah penderita kegemukan akan mencapai 2,3 miliar pada tahun 2015. Angka ini cukup tinggi karena menyamai jumlah penduduk China, ditambah Amerika dan seluruh Eropa.

Masalah kegemukan juga bukan monopoli negara maju yang umumnya terlalu makmur untuk berolahraga berat. Sebuah survei yang dilakukan Globalpost sepanjang 1 dasawarsa terakhir menunjukkan, beberapa negara miskin termasuk dalam 10 negara dengan masalah kegemukan paling banyak.

Berikut ini daftar negara paling gemuk berdasarkan persentase warga yang memiliki masalah berat badan, seperti dikutip dari Globalpost, Senin (28/3/2011).

1. Samoa (93,5 persen)
Negara kepulauan yang juga terletak di Samudra Pasifik ini sebenarnya memiliki tradisi diet yang sehat yakni karbohidrat kompleks yang tinggi serat dan rendah lemak. Namun sejak terjadi migrasi orang asing pada masa Perang Dunia II, diet itu berubah dan menjadikan negara ini sebagai negara tergemuk di dunia.

2. Kiribati (81,5 persen)
Antara tahun 1964-2001, impor makanan di salah satu negara termiskin di dunia ini meningkat 6 kali lipat. Makanan yang didatangkan dari negara lain umumnya berupa makanan olahan yang banyak mengandung lemak dan tidak sehat. Tak heran negara kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik ini menduduki posisi 'runner up' negara paling gemuk di dunia.

3. Amerika Serikat (66,7 persen)
Sejak tahun 1960-an, 24 persen warga Amerika Serikat sudah mengalami overweight. Kini jumlahnya terus meningkat, hingga 2 dari 3 warganya bisa dikategorikan obesitas. Junk food alias makanan tidak sehat disebut-sebut sebagai pemicu utama kegemukan di Amerika Serikat.

4. Jerman (66,5 persen)
Tidak terlalu mengejutkan jika Jerman masuk salah satu negara paling gemuk, karena warganya cukup dikenal dengan budaya minum bir dan makan masakan berlemak. Dalam upaya menekan jumlah warga yang gemuk, saat ini pemerintah menyediakan buah dan sayuran sebagai cemilan gratis untuk anak sekoilah di negara tersebut.

5. Mesir (66 persen)
Jumlah pengidap masalah kegemukan di Mesir meningkat sejak tahun 1980-an. Sejak masa itu, laju pertumbuan penduduk mulai tidak terkendali sehingga pola makan menjadi tidak sehat. Terlebih dalam tradisi sebagain warganya, perempuan ditabukan untuk berolahraga.

6. Bosnia-Herzegovina (62,9 persen)
Masalah kegemukan tidak hanya terjadi di negara-negara dengan penghasilan perkapita relatif tinggi. Buktinya, Bosnia-Herzegovina yang rata-rata penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan masuk dalam 10 besar negara paling gemuk. Pemicunya antara lain diet yang tidak sehat, ditambah dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol.

7. Selandia Baru (62,7 persen)
Menurut penelitian dari University of Otago, masalah kegemukan di Selandia Baru dipicu oleh kecanduan menonton TV sejak kecil. Di negara ini, masalah kegemukan lebih banyak dipicu karena kurang olahraga dibandingkan karena terlalu banyak makan.

8. Israel (62,9 persen)
Sebagaimana yang terjadi di beberapa negara maju yang lain, timbunan lemak juga menjadi masalah serius di Israel. Dalam 30 tahun terakhir saja, jumlah penderita obesitas di negara ini sudah meningkat 3 kali lipat.

9. Kroasia (61,4 persen)
Di negara ini, penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian terbanyak karena salah satu faktor risikonya adalah kegemukan. Wujud keprihatinan terhadap tingginya angka kegemukan, sebuah badan amal di Kroasia pada mencatatkan rekor pembuatan celana jins terbesar di dunia pada Juni 2010. Ukurannya 6 kalu luas lapangan tenis, dijahit dari 8.023 potong jins yang disumbangkan warga.

10. Inggris (61 persen)
Cukup masuk akal jika Inggris masuk 10 besar negara dengan rata-rata IMT tertinggi di dunia, sebab di Eropa sendiri gaya hidup warga Inggris termasuk paling jarang berolahraga. Bahkan rekor manusia paling gemuk pernah dipegang seorang pria Inggris dengan berat badan 680 pound (sekitar 308 kg).