Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Wednesday, April 24, 2013

Mimpi Ibu Hamil dan Artinya

Mimpi Ibu Hamil dan Artinya

Mimpi buruk saat hamil adalah hal yang lumrah. Sama sekali tidak berhubungan dengan kemampuan Anda merawat bayi. Mimpi juga dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis, pikiran, atau

ketakutan Anda sebagai calon ibu. Berikut ini beberapa mimpi aneh dan artinya, yang sering dialami bumil.

Mimpi meninggalkan bayi di bus.

Arti: Anda belum terlalu siap dan cemas menjadi seorang ibu.

Diserang atau melukai diri sendiri.

Arti: Anda sedang rentan saat itu dan butuh dorongan semangat.

Dijebak atau dikurung.

Arti: Anda takut memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu dan takut kehilangan kebebasan.

Pasangan meninggalkan Anda.

Arti: Anda tidak percaya diri dengan bentuk tubuh Anda saat hamil, dan khawatir pasangan tidak menyukai Anda lagi.

Bayi yang Anda lahirkan langsung bisa berjalan atau berbicara.

Arti: Anda mengharapkan anak yang pintar dan sangat ambisius akan masa depannya.

Melahirkan anak babi.

Arti: Anda takut Si Kecil akan lahir dengan bentuk fisik yang aneh.

Merawat anak kucing atau menimang binatang peliharaan lain.

Arti: Anda sedang melatih keterampilan sebagai orang tua.

Wednesday, July 18, 2012

Seputar Tentang Fenomena Pareidolia

Seputar Tentang Fenomena Pareidolia



Pareidolia adalah suatu fenomena psikologis dimana otak mempersepsikan apa yang sedang kita saksikan dengan apa yang pernah kita lihat / alami sebelumnya. Pareidolia sering terjadi sehingga mengakibatkan timbulnya persepsi tentang kemunculan piring terbang, penampakan hantu, wajah / simbol gaib atau bahkan kejadian religius seperti pemunculan nama Allah, penampakan Bunda Maria atau penampakan wajah Yesus Kristus.

Salah satu fenomena pareidolia yang baru saja ramai dibahas adalah penampakan sosok Alien mirip Bigfoot di Planet Mars. Berikut fotonya :

Dalam foto yang diambil oleh wahana penjelajah NASA dan dirilis 4 tahun yang lalu itu, nampak sosok seekor makhluk yang mirip Bigfoot sedang berjalan di suatu bukit di planet Mars.

Padahal sosok tersebut sebenarnya hanyalah sebuah batu kecil yang jaraknya hanya beberapa yard dari kamera wahana penjelajah (badastronomy.com). Obyek tersebut memberikan persepsi makhluk hidup kepada otak kita, karena bentuknya yang memang kebetulan mirip dengan bentuk makhluk hidup yang selama ini sudah kita kenali. Foto tersebut juga sebenarnya sudah di-crop, sehingga lagi-lagi memberikan persepsi tentang keadaan di suatu bukit kepada otak kita. Padahal aslinya bukit-bukit itu adalah bebatuan yang berada di depan wahana Opportunity. Foto aslinya bisa dilihat di [disini], foto diatas adalah hasil cropping kecil dari gambar di posisi kiri-bawah-ujung foto asli. 

Fenomena pareidolia selanjutnya juga pernah menjadi hal yang amat menghebohkan, bahkan sempat menjadi tema sebuah film fiksi-ilmiah (Mission to Mars), yaitu Wajah di Mars. Pertama kali diambil oleh wahana Viking 1 dan dipublikasikan pada tahun 1976. Saat mengambil obyek itu (di wilayah Cydonia Mensae), Viking 1 kebetulan berada pada waktu yang tepat saat matahari menyinari Mars dari suatu sudut yang menjadikan bayangan yang tercipta pada bukit itu membentuk suatu wajah mirip manusia (humanoid). Coba bandingkan foto daerah tersebut yang diambil tahun 1976 dan yang diambil kemudian, saat matahari berada di sudut yang berbeda (Bintik-bintik pada foto sebelah kiri adalah kerusakan data).

Terlihat bedanya bukan? Jadi pada satu waktu, bukit itu memang kebetulan menampilkan bentuk yang mirip wajah manusia, tapi di waktu lain, daerah tersebut hanya menampilkan foto suatu bukit biasa. Yah, walaupun sudah terbukti hanya sebuah bukit biasa, tapi tetap ada yang kekeh berpendapat bahwa itu adalah suatu tanda keberadaan kehidupan di planet Mars
sumber - Seputar Tentang Fenomena Pareidolia

Thursday, April 5, 2012

Fase Pertumbuhan Remaja


Masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) dikenal dengan masa storm and stress. Pada masa ini terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis.

Pada masa remaja terdapat beberapa fase:
  • Fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun).
  • Fase remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun).
  • Fase remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun).
  • Fase pubertas, (usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun), merupakan fase yang singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya.

Masa pubertas berada tumpang tindih antara masa kanak-kanak dan masa remaja, sehingga kesulitan yang ada pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan dalam menghadapi fase perkembangan selanjutnya. Pada fase tersebut, remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon (dalam tubuhnya) yang memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis, terutama emosi.

Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman-teman sebaya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Masa remaja identik dengan lingkungan sosial. Lingkungan sosial menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Jika aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah, di mana sebagian besar waktunya berada di sana, tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang negatif (contoh: tawuran).

Sunday, August 14, 2011

Kenapa Orang Selalu Menutup Mulut Saat Kaget?


Pernahkan melihat aktor atau aktris ketika merasa kaget kemudian menempelkan telapak tangannya di depan mulut mereka? Atau mungkin Anda sendiri pernah melakukannya? Karena sadar atau tidak, kita cenderung untuk menempelkan telapak tangan di depan mulut , memegang dahi atau menempatkan tangan di pipi ketika merasa cemas atau terkejut. Tapi mengapa hal ini bisa terjadi? 




"Itu disebut gerakan tubuh pembawa rasa damai. Seperti halnya anak menghisap ibu jarinya," ujar Janine Driver, Presiden Body Language Institute di Washington, D. C.





"Ketika tangan kita menyentuh wajah, hal tersebut membuat kita seakan-akan berkata kepada diri sendiri 'Tenang, semua aman'. Rasanya seperti ketika ibu kita sedang memeluk dan berkata bahwa kita dapat melaluinya," tambah Driver. 





Ia menjelaskan, ketika seseorang menyaksikan peristiwa kecelakaan mengerikan, mendengar kabar buruk atau hal yang tak bisa dipercaya, meletakkan tangan di depan mulut merupakan luapan ekspresi fisik yang menandakan bahwa secara emosional kita tidak bisa menerima hal lain lagi. 





Peneliti bahasa tubuh menemukan, tidak semua orang di seluruh dunia menutup mulutnya ketika mereka sedang merasa kaget, takut atau terkejut. Para ahli juga menemukan, kaum Hawa ternyata cenderung lebih sering melakukannya dibandingkan dengan pria. 





"Versi yang lebih lembut dari ini adalah ketika seorang pria dalam sebuah ruangan konferensi menempatkan jari telunjuknya pada bibir atau tangan pada dagunya," ujar Driver, yang juga penulis buku You say More Than You Think. 





Gerakan lain yang mengungkapkan rasa takut atau terkejut adalah memegang pergelangan tangan, tetapi menurut Driver, gerakan tubuh yang biasa digunakan orang di seluruh dunia ketika merasa takut adalah dengan membuka mulut dalam bentuk oval dan mengangkat kedua alis. 





"Ini ada dalam DNA, tidak peduli jika Anda seorang yang berkulit hitam, putih atau hispanic. Berasal dari Irak, Zimbabwe ataupun Chicago," ujarnya.


kompas.com