Sunday, May 2, 2010

MENGENAL PENYAKIT PARKINSON

Apa itu parkinson? Nama penyakit parkinson diambil dari nama penemunya, James Parkinson. Menurut Ketua Yayasan Peduli Parkinson Indonesia, dr Banon Sukoandari, Sp.S., parkinson adalah penyakit degenerasi yang menyerang otak karena kurangnya dopamine dalam otak.

"Gejala utamanya, gangguan pergerakan, dan gangguan non motorik. Pada banyak penyandang parkinson, ada gangguan kognitif dalam berbagai derajat," kata Banon yang ditemui dalam acara memperingati hari parkinson "Senada Seirama Bersama Parkinson: Yuk Main Angklung" di Jakarta, Minggu (2/5/2010).

Penyakit parkinson, menurut Banon, sulit dicegah dan disembuhkan karena penyebabnya sendiri sulit diketahui pasti. Yang jelas, ketika individu kehilangan lebih dari 80 suplai dopamine, zat penting dalam proses pengiriman sinyal antara sel-sel saraf otak untuk mengatur gerakan, maka individu akan mengalami beberapa gejala parkinson.

"Pertama, gemetar tak terkontrol di tangan atau kaki saat istirahat. Kedua, kaku anggota gerak. Ketiga, gerakan melambat, gangguan berjalan, dan gangguan keseimbangan," kata Banon.

Untuk mengurangi gejala-gejala tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa terapi seperti levodopa, carbidopa, dan entacapone yang membantu mengontrol gerakan tubuh penyandang parkinson. Selain itu, diperkenalkan pula terapi musik, yang membantu penyandang memulai gerakan berdasarkan ritme musik. "Di luar negeri sudah mulai dilakukan, musik disesuaikan dengan kesukaan pasien," ujar Banon.

Adapun usia yang rentan terserang parkinson adalah 60 tahun meskipun 1 dari 20 kasus menyerang pasien usia 40. Prevelensi penyakit parkinson di dunia mencapai sekitar 6,3 juta. Sebanyak 1,6 per 100 orang di atas 65 tahun dan 1 per 50 orang di atas 80 tahun terserang parkinson. "Meski secara ilmu pengetahuan tidak bisa dicegah, ada baiknya dengan pendekatan lingkungan. Pelihara lingkungan dengan sebaik-baiknya, jangan buang batrai bekas atau pestisida sembarangan," demikian dr Banon.
KOMPAS.com -

Kasus Gangguan Jiwa Ringan Meningkat

Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini, menurut data Departemen Kesehatan tahun 2007, mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 11,6 persen dari populasi dan 0,46 persen menderita gangguan jiwa berat.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia dr Tun Kurniasih Bastaman, dr.Sp.KJ (K), menyatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa ringan. "Secara umum, gangguan jiwa berat cenderung stagnan, justru yang ringan mengalami peningkatan," katanya dalam acara jumpa pers Konferensi Nasional Psikoterapi 2010, Sabtu (1/5) di Jakarta.

Faktor gaya hidup dan problematikanya, seperti tuntutan hidup dan persaingan yang semakin tinggi, menjadi pemicu banyaknya penderita gangguan jiwa ringan. "Kebanyakan yang datang ke psikiater adalah orang yang depresi dan stres karena problem sehari-hari," kata dr Tun.

Orang yang menderita gangguan jiwa ringan memiliki ciri sering dilanda kecemasan, gangguan panik, sulit berkonsentrasi, serta gangguan tidur. "Gangguan jiwa ringan bisa membuat seseorang jadi tidak produktif dan mengganggu hubungan sosial dengan orang lain. Karena itu, perlu dikonsultasikan kepada psikiater," tambah dr Tun.

Dia menambahkan, gangguan jiwa ringan dan berat memiliki definisi klinis yang berbeda. Kendati gangguan jiwa ringan bisa menetap, gangguan jiwa kategori ini tidak akan bergeser menjadi gangguan jiwa berat.

Saat ini masih banyak orang yang enggan memeriksakan diri ke dokter jiwa karena kuatnya stigma di masyarakat. "Sebenarnya orang yang mengalami gangguan jiwa adalah orang yang sakit, sama saja seperti orang yang sakit diabetes atau jantung. Ada mekanisme biologinya. Karena itu, jangan dijauhi, tetapi diberikan pertolongan," ujar dr Tun.

Dalam ilmu jiwa, gangguan pada seseorang dilihat secara menyeluruh, baik psikis maupun fisik. Oleh sebab itu, pengobatan juga dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya obat-obatan, tetapi juga psikoterapi.
kompas.com

Saturday, May 1, 2010

TEH HIJAU UNTUK KESEHATAN PARU-PARU

Minum teh hijau mungkin bisa memberikan perlindungan atas kanker paru-paru, seperti disampaikan para ilmuwan yang meneliti penyakit itu di sebuah universitas di Taiwan.

Penelitian terbaru yang melibatkan 500 responden ini mendukung bukti-bukti sebelumnya yang menyebutkan bahwa minuman memiliki kekuatan anti kanker.

Dalam penelitian terbaru ini, perokok dan yang tidak merokok yang minum sedikitnya satu gelas teh hijau sehari berhasil memperkecil resiko kanker paru-paru secara signifikan.

Dr I-Hsin Lin dari Shan Medical University menemukan diantara perokok dan non-perokok maka mereka yang tidak minum teh hijau menghadapi kemungkinan menderita kanker paru lima kali lebih tinggi daripada mereka yang minum teh hijau sehari sekali.

Sementara itu di kalangan para perokok, maka yang tidak minum teh hijau berpeluang terserang kanker paru-paru sampai 12 kali lebih tinggi daripada yang minum teh hijau.

Masih berbeda
Dan perlindungan itu lebih lebih besar lagi bagi orang-orang yang memiliki gen tertentu.

Namun para ahli kanker menegaskan temuan mereka tidak mengubah kenyataan bahwa merokok berpengaruh buruk atas kesehatan.

Teh hijau terbuat dari daun kering tanaman Camellia yang tumbuh di Asia dan banyak diminum oleh warga Asia.

Tingkat penderita kanker memang lebih jauh di Asia dibanding wilayah lain dunia yang mengarah pada kaitan antara teh hijau dan kanker.

Laboratorium memperlihatkan bahwa sari teh hijau, yang disebut polyphenols, bisa menghentikan tumbuhnya sel-sel kanker.

Namun hasil penelitian sejauh ini masih berbeda: ada yang mengatakan pengaruh perlindungan terlihat namun ada juga yang berpendapat tidak berhasil menemukan bukti-bukti perlindungan.

kelompok riset Cochrane yang berkantor di Oxford, menerbitkan 51 penelitian tentang teh hijau dan kanker yang mencakup 1,5 juta responden.

Kesimpulannya adalah teh hijau aman diminum jika tidak berlebihan namun masih ada perbedaan pendapat tentang aspek perlindungan kanker tertentu.

CARA PENGOBATAN ALTERNATIF SAKIT KEPALA

MIGRAIN dan tipe sakit kepala lainnya bisa diatasi dengan obat-obatan penghilang rasa sakit. Selain itu, untuk meminimalkan efek kimia dari obat, Anda bisa mencoba berbagai pengobatan alternatif. Migrain dan sakit kepala seringkali dipicu oleh stres kronis. Karena itu, pengobatan alternatif ini umumnya bekerja menurunkan stres.

Berikut beberapa pengobatan alternatif yang bisa menjadi pilihan Anda:

Biofeedback
Biofeedback merupakan teknik yang bisa membantu penderita sakit kepala mempelajari keterampilan mengurangi stres. Teknik ini menyediakan informasi (feedback) mengenai ketegangan otot, suhu kulit, gelombang otak, serta tanda-tinda vital lainnya. Dengan mengetahui informasi ini, Anda bisa mengontrol gejala.

Sensor besi kecil (dikenal dengan elektroda) ditempelkan ke kulit. Alat ini berfungsi mengukur jumlah ketegangan otot atau suhu kulit. Informasi akan ditayangkan dalam bentuk angka-angka, gelombang elektrik atau suara di layar. Sebagai contoh, respon stres menurunkan suhu kulit karena pengerutan pembuluh darah. Sedang respon rileks melebarkan pembuluh darah dan membuat suhu kulit lebih hangat.

Hasil beberapa studi menunjukkan adanya perubahan aliran darah dalam otak selama serangan migrain dan selama periode bebas sakit di antara serangan. Dengan latihan biofeedback, Anda bisa memengaruhi aliran darah ke otak dan lebih bisa mengatur sakit kepala.

Sebagian besar studi mengenai biofeedback mengindikasikan bahwa teknik ini mengurangi frekuensi dan durasi sakit kepala, baik pada anak-anak dan orang dewasa. Secara umum, seperti dinyatakan di situs webmd.com, biofeedback bisa dibandingkan dengan obat-obatan yang digunakan untuk sakit kepala kronis. Teknik ini bisa dianjurkan sebagai pengobatan dini untuk migrain berulang.

Manajemen stres
Kejadian-kejadian yang meningkatkan stres, kecemasan dan depresi telah dikaitkan dengan migrain dan sakit kepala kronis. Karena itu, cobalah padukan teknik relaksasi dengan gaya hidup sehat (seperti cukup tidur dan mengonsumsi diet sehat).

Akupunktur
Menurut sistem pengobatan tradisional China, akupunktur menstimulasi kemampuan tubuh menahan atau mengatasi penyakit dengan memperbaiki ketidakseimbangan energi. Menurut sistem pengobatan ini, migrain dan sakit kepala muncul saat aliran alami energi terganggu. Akupunktur bisa memperbaiki gangguan energi ini dan mengembalikan kesehatan fisik, mental dan emosional.

Berdasarkan temuan studi-studi, akupunktur merangsang pelepasan zat kimia pengurang rasa sakit, seperti endorfin. Selain itu, akupunktur juga menstimulasi otak untuk melepaskan tipe zat kimia tubuh lainnya dan hormon-hormon yang mengiriman pesan antara sel-sel yang berbeda, termasuk sel sistem kekebalan tubuh.

Pijat
Manfaat pijat dalam meredakan migrain dan sakit kepala belum diuji melalui percobaan klinis. Akan tetapi, pijat merupakan cara bagus mengurangi stres dan meredakan ketegangan. Teknik pijat khususnya efektif mengurangi ketegangan di otot-otot yang lembut, seperri otot di bagian belakang kepala, leher dan bahu. Selain itu, pijat juga berfungsi meningkatkan aliran darah ke area tersebut. Untuk beberapa orang, pijat bisa meredakan sakit kepala yang dipicu oleh ketegangan otot.

Minyak esensial
Aromaterapi, baik dengan cara menghirup aroma minyak esensial atau mengoleskan ke kulit, diyakini bisa menenangkan dan mengubah persepsi mengenai rasa sakit. Beberapa laporan menyebutkan bahwa minyak lavender, minyak jahe dan minyak peppermint bisa membantu meredakan sakit kepala yang dipicu ketegangan.

Perubahan diet
Makanan tertentu, seperti cokelat, keju, buah sitrus, anggur merah, dan beberapa makanan lainnya bisa memicu sakit kepala pada orang-orang yang rentan. Untuk mengontrol migrain dalam jangka panjang, ada baiknya mengenali dan mengurangi makanan yang memicu sakit kepala.