Thursday, November 12, 2009

PENYAKIT POLIO YANG IRONIS

PENYAKIT polio sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layu berjalan menggunakan tongkat.


Lambat laun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pemberantasan penyakit polio mulai galak dilakukan sejak tahun 1990an sebagai respon terhadap wabah dunia di tahun-tahun tersebut. Pada tahun 1954 vaksin polio buatan Salk, telah mulai digunakan. Satu dekade berjalan, vaksin yang diperkirakan memiliki efek lebih baik ditemukan oleh Albert Sabin, dan mulai digunakan sejak tahun 1964. Vaksin berupa tetes mulut inilah yang hingga hari ini masih digunakan di Indonesia dalam berperang sekuat tenaga membasmi polio. Kondisi yang ironis mengingat Amerika Serikat telah mampu melakukan eradikasi (pemusnahan) polio pada tahun 1979. Sangat memalukan dalam selisih waktu 30 tahun pun kita belum mampu mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat.


Poliomyelitis atau yang lebih dikenal sebagai polio, adalah penyakit menular yang disebabkan virus polio, dan menimbulkan gejala utama berupa kelumpuhan (paralisis).


Virus polio terdiri dari 3 strain yaitu:
  • strain 1 (brunhilde),
  • strain 2 (lanzig),
  • dan strain 3 (leon).
Strain 1 paling ganas, dan sering menyebabkan wabah. Sedangkan strain 2 adalah yang paling jinak.
Penyakit ini menular melalui kontak antar manusia. Kontak dapat melalui penularan dari feses orang terinfeksi yang mengkontaminasi makanan dan minuman, untuk kemudian masuk ke mulut calon penderita. Setelah seseorang terkena infeksi polio, virus akan keluar bersama feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus. Istilah medisnya transmisi fecal-oral. Kontak lain bisa juga langsung dari mulut ke mulut, namun hal ini sangat jarang terjadi.

Setelah masuk ke mulut, virus ini masuk ke saluran cerna dan menimbulkan infeksi di sana. Tidak berhenti sampai di sini, virus dapat menembus pembuluh darah usus, untuk memasuki aliran darah menuju ke sistem saraf pusat. Di sana virus menginvasi sel-sel saraf, menimbulkan kerusakan yang awalnya hanya berupa kelemahan otot dan jika parah dapat berlanjut menjadi kelumpuhan.

Namun ternyata pada 95 persen kasus, polio sebenarnya tidak menunjukkan gejala yang khas. Hal ini diebut polio asimptomatik (tanpa gejala). Sedangkan sisanya sebanyak 4-8 persen kasus, menunjukkan gejala yang jelas, disebut polio simptomatik. Gejala yang jelas ini muncul dalam 3 bentuk yang berbeda, yakni :


  • Bentuk yang ringan disebut juga abortive polio.
    Pada bentuk ini, polio tidak menunjukkan gejala kelumpuhan. Penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri perut. Gejala ini jarang parah, dan bertahan tidak lebih dari tiga hari. Kumpulah gejala ini sangat mirip sakit flu dan disebut flu like syndrome. Walau demikian, virus tetap berjalan melewati saluran cerna, dan feses penderita telah mengandung bahan virus yang siap ditularkan. Pada bentuk ini, penyakit polio akan sembuh spontan dan pulih sepenuhnya.
  • Non paralitik polio
    Pada keadaan ini, gejala berjalan lebih serius, bertahan selama 1-2 minggu. Timbul demam, sakit kepala, muntah, dan diare. Pada otot mulai tampak gejala, seperti kekakuan, kete-gangan, dan nyeri otot. Terkadang bentuk ini berjalan lebih serius hingga gejala yang mirip radang selaput otak, seperti timbulnya sensitivitas terhadap cahaya dan kaku leher/kuduk.
  • Paralitik polio
    Bentuk inilah bentuk polio yang sering disebutkan. Sebenarnya persentase terjadinya sangat kecil dibanding seluruh infeksi polio, yakni 0,1-2 persen kasus.

Mengapa terjadi kelumpuhan pada bentuk ini tidak lain karena virus berhasil melewati dinding pembuluh darah usus, untuk berangkat menuju sel-sel saraf di tukang belakang. Di sana, virus menghancurkan suatu sel saraf bernama sel tanduk anterior, yang berfungsi mengontrol pergerakan pada tangan dan kaki. Pada penderita yang tidak memiliki kekebalan (belum divaksin) virus akan menyerang seluruh sel saraf terutama sel saraf motorik (sel yang mengatur pergerakan otot). Sel saraf motorik ini tidak punya kemampuan regenerasi hingga jika terinfeksi sifatnya akan permanen. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan kaki menjadi lemas. Kondisi ini terjadinya cepat (dalam hitungan jam), disebut acute flaccid paralysis (AFP).

Pada keadaan yang sangat parah, batang otak dapat ikut terserang. Di batang otak terdapat saraf motorik yang mengatur berbagai fungsi vital kehidupan manusia, terutama fungsi pernafasan. Jika batang otak terserang, seseorang dapat menibggal karena gagal bernafas.
Dari mulai terinfeksi hingga lumpuh ada beberapa tahap yang terjadi, terbagi dalam 3 stadium:

  1. Masa Inkubasi.
    Masa ini dimulai saat virus sudah masuk ke tubuh namun belum menunjukkan gejala. Pada masa ini virus melakukan pembelahan hingga mampu menginfeksi. Biasanya berlangsung 3-35 hari.
  2. Stadium Akut.
    Fase ini berjalan sejak muncul-nya gejala hingga 2 minggu. Ditandai dengan suhu tubuh meningkat, jarang terjadi lebih dari 10 hari, kadang disertai sakit kepala dan muntah. Kelumpuhan terjadi pada seminggu permulaan sakit. Kelumpuhan bersifat asimetris sehingga menimbulkan deformitas (gangguan bentuk tubuh) yang cenderung menetap bahkan lebih berat. Sebagian besar mengenai kaki. Kelumpuhan berjalan bertahap dan memakan waktu 2 hari hingga 2 bulan.
  3. Stadium subakut
    Dimulai dengan menghi-langnya demam dalam waku 24 jam. Kadang, disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Fase ini cukup panjang, selama 2 minggu hingga 2 bulan. Pada fase ini gejala-gejala berat mulai menghilang.
  4. Konvalesens
    Ini adalah fase dimana gejala telah hilang namun virus belum sepenuhnya hilang. Berlangsung sangat lama, selama 2 bulan sampai 2 tahun. Mulailah terjadi pemulihan kekuatan otot yang sebelumnya melemah, dimana 50-70 persen kekuatan otot pulih dalam waktu 6-9 bulan. Setelah 2 tahun, tidak akan terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.

Bagaimana dengan kecacatan yang timbul. Kaki berbentuk huruf "X" atau "O", yang telah timbul. Bentuk ini tidak hilang, karena terjadi saat masa pertumbuhan, sehingga kecacatan akan menetap dan terjadi gangguan pertumbuhan tulang.

Polio tidak bisa diobati. Jika terkena jenis yang paralitik, sekali terjadi deformitas, maka akan menetap selamanya dan menjadin cacat. Pengobatan yang diberikan hanya untuk meredakan gejala. Kenyataan akan sangat berbeda jika kita sudah diimunisasi. Sekali divaksinasi, tubuh manusia akan menghasilkan antibodi terhadap virus, sebagai proteksi seumur hidup.

Vaksinasi pertama sekali adalah vaksin yang ditemukan Salk, digunakan pada tahun 1955. Vaksin ini menggunakan bahan sel virus yang tidak aktif, dinamakan Inactivated Polio Vaccine (IPV). Dengan penggunaan ini terjadilah penurunan infeksi polio pralitik dari 37 menjadi hanya 0,8 per 100.000 penduduk pada tahun 1961, di Amerika Serikat.

Pada tahun 1961-1962, ditemukan vaksin dari bahan hidup, dan menggantikan peran IPV karena lebih praktis menggunakannya dan menghasilkan kekebalan jangka panjang. Keunggulan lainnya adalah meng-hasilkan imunisasi kontak, dimana orang yang belum terimunisasi, jika kontak dengan anak yang sudah diimunisasi akan menjadi terimunisasi juga. Karena cara memberikannya adalah melalui mulut, vaksin ini dikenal sebagai Oral Polio Vaccine (OPV).

Pada beberapa dekade tera-khir, penggunaan OPV menga-lami hambatan. karena terjadi serokonversi virus di negara berkembang. Hal ini diduga karena vaksin menjadi tidak stabil di udara tropis, juga karena banyaknya malnutrisi dan infeksi yang menyerang anak-anak.

Dengan berbagai pertimbangan, penggunaan virus OPV masih digunakan di berbagai negara berkembang. Namun, penggunaannya harus sangat hati-hati pada anak yang sedang sakit (menderita infeksi) dan pada anak dengan kurang gizi, dan statu kesehatan yang rendah. Selain itu, vaksin tetes mulut ini juga dilarang pada pasien yang alergi terhadap zat vaksin tersebut, wanita hamil, penderita HIV-AIDS, dan pasien dengan kelemahan imunitas.

Imunisasi yang dianjurkan adalah 4 kali. Pertama kali diberikan saat lahir, kemudian pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan terakhir 18 bulan. Pada usia 5 dan 15 tahun, dianjurkan untuk melakukan pengulangan imuni-sasi agar memperkuat imunitas tubuh.

Pemahaman masyarakat yang baik terhadap waktu pelaksanan ini, akan mengahsilkan kesadaran berimunisasi yang diharapkan. Setiap ibu harus acuh untuk mendapatkan imunisasi polio ketika anaknya lahir.

Kemudian melakukan peman-tauan hingga usia 15 tahun untuk melengkapi semua imunisasi.
Pada program eradikasi polio yang dicanangkan, terdapat tiga program utama, yaitu:
  1. Imunisasi pada setiap anak
    Diharapkan setiap anak Indo-nesia telah diimunisasi polio secara lengkap.
  2. Pemantauan terjadinya wabah (Surveilance for Accute Flaccid Paralysis)
    Pada daerah yang tiba-tiba mendapat serangan wabah polio (kelumpuhan), maka anak-anak yang terserang harus diperiksa tinjanya untuk memastikan penyebabnya adalah polio. Setelah diperiksai dan dipastikan, maka berlanjut ke langkah ketiga.
  3. Mopping up
    Maksudnya adalah melakukan imunisasi missal di daerah yang ditemukan penderita polio. Semua anak di daerah tersebut, tanpa memeprhatikan status imuniasai polio yang telah diterimanya, harus diimunisasi ulang.
Kesehatan adalah hak setiap manusia. Untuk mendapatkan hak terkadang kita harus berjuang. Bentuk perjuangan terkini menghadapi polio adalah dengan membawa anak untuk diimunisasi, saat anak sedang sehat, dengan jadwal yang teratur.
Tanpa imunisasi, mungkin sebagian besar anak dapat tumbuh sehat tanpa polio. Namun sekali terinfeksi, sungguh ironis akibatnya. Anak akan menjadi cacat dan menjadi tanggungan malu bagi dirinya seumur hidup.

Sumber dari: Ahmad Handayani, S.Ked

Teknik Pembekuan Telur

Sebuah metode penyimpanan telur manusia yang membuat wanita dapat menunda kehamilan ditemukan. Teknik tersebut melibatkan pembekuan cepat. Teknik baru ini diharapkan dapat membantu wanita yang ingin menunda kehamilan atau kesuburannya terancam kanker. Namun seorang ahli asal Inggris mengingatkan, walau penelitian ini sangat menarik, penelitian lebih lanjut dibutuhkan.
Sebenarnya teknik pembekuan bukanlah hal baru. Meskipun sperma dan embrio sering dibekukan, keduanya dengan mudah mencair. Cara awal membekukan telur terbukti jauh dari sukses. Formasi kristal es dalam cairan pada telur dapat merusak strukturnya, membuatnya menjadi tidak berguna.

Penelitian terbaru ini melibatkan 200 ibu yang hamil dengan telur yang divitrifikasi. Vitrifikasi mencakup pemindahan air dari telur, kemudian ditambahkan sebuah solusi antibeku sehingga membeku cepat dalam nitrogen cair.

Hasil menunjukkan lebih dari 95% telur berhasil bertahan dalam proses tersebut. Sementara itu, dengan metode yang lebih tua, hanya 50% hingga 60% yang sanggup bertahan. Metode pembekuan telur yang aman dan efektif akan membuat telur dapat 'dipanen'. Hasil 'panen' tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan sebuah kehamilan IVF di masa depan.

Di samping keinginan menunda kehamilan melebihi usia 30-an dan 40-an, beberapa wanita menggunakan teknik ini untuk alasan medis, mungkin jika mereka menghadapi pengobatan kanker yang membuat mereka tidak subur atau menopause prematur.

Wanita memiliki jumlah telur yang tetap seumur hidup. Namun fertilitas menurun tajam sejak akhir usia 30-an. Di usia itu, jumlah telur merosot. Jadi, sungguh jelas betapa pentingnya keberadaan penemuan ini bagi para wanita yang ingin menunda kehamilan mereka.

Tidak perlu khawatir soal efek samping. Para peneliti dari Universitas McGill di Montreal menemukan jumlah kelahiran cacat di antara 200 ibu hamil menggunakan telur yang divitrifikasi adalah 2,5%. Secara kasar, persentase itu sama dengan kehamilan alami dan IVF.

Dr Allan Pacey, Sekretaris British Fertility Society (BFS), mengatakan lebih banyak studi sejenis dibutuhkan sebelum menetapkan keselamatan prosedur.

Ia menambahkan, meskipun BFS tidak memiliki kebijakan penggunaan pembekuan telur untuk alasan 'sosial', ia pribadi merasa tidak ada masalah etis dengan menawarkan kesempatan kepada wanita untuk merencanakan keluarga baru dengan cara ini.

Kelak, mereka juga berharap dapat menawarkan pembekuan sperma pada pria untuk alasan yang sama. Ia tidak merasa melihat perbedaan besar di antara keduanya. Bukankah sudah saatnya pria dan wanita memiliki kesempatan yang sama?

APAKAH PENYEBAB DAN CARA PENANGANAN KRAM KAKI

Kram kaki adalah nyeri akibat spasme otot di kaki yang timbul karena otot berkontraksi terlalu keras. Daerah yang paling sering kram adalah otot betis di bawah dan belakang lutut. Nyeri kram dapat berlangsung beberapa detik hingga menit dengan keparahan bervariasi.

Kram kaki biasanya terjadi saat kita beristirahat, bahkan mungkin sedang tidur. Orang tua lebih sering terkena kram daripada orang muda. Pada beberapa orang tua, kram bahkan bisa terjadi setiap hari.

Penyebab
Pada umumnya penyebab kram tidak diketahui (idiopatik). Sementara ahli berpendapat bahwa kram terjadi ketika otot yang sudah dalam posisi mengkerut dirangsang untuk kontraksi. Hal ini terjadi saat kita tidur dengan posisi dengkul setengah ditekuk, dan telapak kaki sedikit mengarah ke bawah. Pada posisi ini otot betis agak tertekuk dan mudah terkena kram. Itulah mengapa gerakan pelenturan sebelum tidur dapat mencegahnya.

Pada beberapa kasus, kram mungkin terjadi karena masalah atau kondisi lainnya, misalnya:

  • Beberapa jenis obat dapat memberikan efek samping berupa kram. Golongan obat ini antara lain: diuretik, nifedipine, cimetidine, salbutamol, statins, terbutaline, lithium, clofibrate, penicillamine, phenothiazines, dan nicotinic acid.
  • Dehidrasi
  • Ketidakseimbangan zat garam dalam darah (misalnya, kadar kalsium atau potasium terlalu rendah)
  • Kehamilan, terutama pada trimester akhir
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif
  • Penyempitan arteri kaki yang menghambat sirkulasi
  • Gangguan saraf
  • Sirosis hati
    Pada kondisi di atas, kram hanyalah satu dari beberapa gejala lainnya. Bila tidak ada gejala lain, kemungkinan besar kram bersifat idiopatik dan bukan karena kondisi di atas.

Penanganan


Gerakan pelemasan (stretching) dan pemijatan biasanya dapat meredakan serangan kram. Obat pengurang sakit biasanya tidak bermanfaat karena tidak cukup cepat bekerja. Namun, pengurang sakit seperti paracetamol mungkin bermanfaat meringankan nyeri dan lemas otot yang kadang masih berlangsung hingga 24 jam setelah hilangnya kram.

Pencegahan

  • Beritahu dokter bila kram kemungkinan disebabkan oleh konsumsi salah satu obat di atas. Dokter dapat memberikan obat alternatif.
  • Minum setidaknya enam gelas penuh setiap hari, termasuk satu gelas sebelum tidur. Juga perbanyak minum sebelum, selama dan setelah berolah raga.
  • Konsumsi makanan yang kaya kalsium, potasium dan magnesium. Makan satu atau dua buah pisang sehari sudah cukup memenuhi kebutuhan potasium Anda.
  • Bila Anda sering mengalami kram saat tidur, lakukan gerakan pelemasan pada otot-otot betis sebelum tidur. Caranya adalah dengan berdiri sekitar 60-90 cm dari dinding, lalu condongkan badan ke arah dinding dengan telapak kaki tetap di tempat. Lakukanlah beberapa kali. Anda mungkin perlu beberapa hari melakukannya sampai efeknya terasa.
  • Tidurlah dengan posisi yang mencegah otot betis Anda tertekan tanpa disadari
  • Gunakan bantal untuk menyangga telapan kaki saat Anda tidur telentang.
  • Bila Anda tidur tengkurap, posisikan telapak kaki menggantung di ujung kasur.
  • Usahakan selimut tetap longgar di bagian kaki agar jari-jari dan kaki telapak tidak menghadap ke bawah saat tidur.

12 Faktor Risiko Penyakit Jantung

Inilah dua belas faktor risiko penyakit jantung koroner atau serangan jantung. Empat faktor pertama tidak dapat Anda kendalikan, sementara delapan sisanya dapat Anda kendalikan.
UmurLebih dari 83% orang yang meninggal karena penyakit jantung koroner berusia 65 tahun ke atas. Wanita lansia lebih berisiko meninggal karena serangan jantung dalam beberapa minggu setelah serangan dibandingkan laki-laki.Laki-lakiLaki-laki lebih berisiko mengalami serangan jantung dibandingkan perempuan dan mengalaminya pada usia yang lebih muda.
Setelah menopause, angka kematian wanita karena serangan jantung meningkat, tetapi tetap tidak setajam peningkatan pada laki-laki.Riwayat keluargaMereka yang memiliki riwayat keluarga atau saudara dekat berpenyakit jantung cenderung lebih berisiko mengidapnya.RasSuku bangsa tertentu memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan lainnya.
Ras kulit hitam, mexico, India, dan Asia memiliki risiko penyakit jantung lebih tinggi daripada ras kulit putih.MerokokMerokok meningkatkan risiko penyakit jantung dua hingga empat kali lipat.Kolesterol tinggiRisiko penyakit jantung koroner meningkat seiring peningkatan kadar kolesterol darah: memiliki LDL (“kolesterol jahat”) tinggi dan HDL (“kolesterol baik”) yang rendah.
Tekanan darah tinggiTekanan darah tinggi meningkatkan beban jantung, membuat jantung menebal dan kaku, dan meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan gagal jantung. Ketika tekanan darah tinggi diiringi dengan obesitas, merokok, kolesterol tinggi atau diabetes, risiko serangan jantung meingkat berkali-kali lipat.Gaya hidup kurang gerakKurang bergerak badan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.KegemukanOrang yang kegemukan (lebih dari 20% berat badan ideal) cenderung berisiko penyakit jantung dan stroke, bahkan bila mereka tidak memiliki faktor risiko lainnya.
DiabetesMemiliki diabetes meingkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Sekitar tiga perempat orang dengan diabetes meninggal karena jenis penyakit jantung atau pembuluh darah.Stres dan KemarahanStres dan kemarahan yang tidak terkendali dengan baik dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.Minum alkoholBanyak meminum alkohol dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan gagal jantung dan stroke.
Meminum alkohol juga dapat meningkatkan trigliserida, penyakit kanker, dan menyebabkan detak jantung tidak beraturan.Sumber: American Health AssociationInilah dua belas faktor risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Empat faktor pertama tidak dapat Anda kendalikan, sementara delapan sisanya dapat Anda kendalikan.

1. Umur
Lebih dari 83% orang yang meninggal karena penyakit jantung koroner berusia 65 tahun ke atas. Wanita lebih berisiko meninggal karena serangan jantung dalam beberapa minggu setelah serangan dibandingkan laki-laki.

2. Laki-laki
Laki-laki lebih berisiko mengalami serangan jantung dibandingkan perempuan dan mengalaminya pada usia yang lebih muda. Setelah menopause, angka kematian wanita karena serangan jantung meningkat, tetapi tetap tidak setajam peningkatan pada laki-laki.

3. Riwayat Keluarga
Mereka yang memiliki riwayat keluarga atau saudara dekat berpenyakit jantung cenderung lebih berisiko mengidapnya.

4. Ras
Ras kulit hitam, hispanik, India, dan Asia memiliki risiko penyakit jantung lebih tinggi daripada ras kulit putih.

5. Merokok
Merokok meningkatkan risiko penyakit jantung dua hingga empat kali lipat.

6. Kolesterol Tinggi
Risiko penyakit jantung koroner meningkat seiring peningkatan kadar kolesterol darah: memiliki LDL (“kolesterol jahat”) tinggi dan HDL (“kolesterol baik”) yang rendah.

7. Tekanan Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi meningkatkan beban jantung, membuat jantung menebal dan kaku, dan meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan gagal jantung. Bila tekanan darah tinggi diiringi dengan obesitas, merokok, kolesterol tinggi atau diabetes, risiko serangan jantung meningkat berkali-kali lipat.

8. Gaya Hidup Kurang Gerak
Kurang bergerak badan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

9. Kegemukan
Orang yang kegemukan (lebih dari 20% berat badan ideal) cenderung berisiko penyakit jantung dan stroke, bahkan bila mereka tidak memiliki faktor risiko lainnya.

10. Diabetes
Memiliki diabetes meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Sekitar tiga perempat penderita diabetes meninggal karena sejenis penyakit jantung atau pembuluh darah.

11. Stres dan Kemarahan
Stres dan kemarahan yang tidak terkendali dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.

12. Minum Alkohol
Banyak meminum alkohol dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan gagal jantung dan stroke. Meminum alkohol juga dapat meningkatkan trigliserida, menyebabkan kanker dan detak jantung tidak beraturan.

Sumber: American Health Association